
Bagi yang belum tahu, hari ini saya berstatus sebagai pengangguran. Iya, tanpa pekerjaan tetap. Tempo hari, saya memang bekerja di salah satu lembaga pemerintah sebagai tenaga teknis. Per tanggal 30 Oktober 2020, saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang sangat saya cintai.
Alasannya tidak sederhana. Bukan, bukan karena tidak betah. Tapi setiap orang perlu melangkah untuk menemukan petualangan barunya. Petualangan baru itu bagi saya adalah… menikah. Woohoo! Tjakep, nggak?
Lalu kenapa memutuskan untuk mengundurkan diri? Kenapa tidak dilanjut saja?
Saya dengan (calon) suami saya sudah ngobrol panjang, tentang siapa yang harus ‘resign’ dari kantor jika kelak akan memulai hidup bersama. Maklum, sebelum menikah, kami hidup berpisah kota. Dia di Bogor, saya di Bandung. Hidup jarak jauh pascamenikah, atau ‘long distance marriage’ istilah anak sekarang, bukanlah pilihan bagi kami. Jadi sebisa mungkin maunya ya tinggal bersama.
Saat pertanyaan “Siapa yang mau resign” muncul, saya tak pikir panjang untuk mengajukan diri. “Aku aja,” ujarku.
Meskipun kehidupan pekerjaan saya di Bandung lagi nyaman-nyamannya, pilihan resign buatku tidaklah buruk. Jika resign, aku bisa mengerjakan hal-hal yang tertunda, mengambil waktu yang tak kupunya saat masih bekerja. Bilamana waktu resign tiba, sudah kusiapkan serangkaian rencana untuk mengisi waktu luangku, membaca buku-buku yang sudah kubeli, membuat prakarya, membuat tulisan ini, dan merapikan tampilan blogku yang ala kadarnya. Boleh dicek deh homepage aku yang baru, hehehe. Lumayan. Aku udah siap-siap menyiapkan project terbaru sama teman-teman. Duh, akhirnya punya waktu luang yang bisa kuatur sendiri! Ah, udah kebayang, hari-hari tanpa ada kewajiban ke kantor akan sangat menyenangkan. Lalalalala~
Lagi pula, mencari nafkah itu kewajiban suami, toh? Bukan istri? Hahaha.
Kalau aku tak berpenghasilan, secara prinsip ya ndak apa-apa. Lain halnya kalau si bebeb yang harus resign, mungkin akan butuh waktu untuk membangun kembali kariernya. Sekarang ini, dia lagi nyaman-nyamannya bekerja di kantornya, proyek sedang lumayan, lingkungan kerjanya baik, belum lagi rekan kerja yang suportif dan menyenangkan. Betul-betul jadi kawah candradimuka buatnya, medium yang nyaris sempurna untuk banyak belajar. Kalau harus resign, lebih banyak mudharatnya. Belum lagi stigma-stigma netizen yang bikin males dengernya. Kalau buatku sih tak apa bebepku tak bekerja untuk sementara sambil nyari kerjaan baru di Bandung, toh insyaallah rezeki Allah selalu ada. Namun, penting menurutku untuk menjaga marwah suamiku, dengan tetap memberinya ruang untuk menunaikan kewajibannya sebagai imam dan kepala rumah tangga. Jadi, pilihan untuk resign adalah jalan ninjaku.
Alhamdulillah, perbincangan mengenai siapa yang akan menjadi pengangguran ini berakhir dengan damai tanpa banyak pertentangan. Dia menang, aku senang. Yeayy!
Eh, ternyata, Allah berkehendak lain. Tahun depan insya Allah aku sama bebebku akan tinggal di Bandung. Alhamdulillah, kami sama-sama dapet kerja di Bandung, kota ‘pertemuan’ kami. Hehe. Padahal aku dah siap-siap mau jadi warga Kab. Bogor. Eh, jodohnya dasar harus ke Bandung. Mohon doanya, ya!




Tinggalkan komentar